Social Icons

Minggu, 01 Oktober 2017

Kasus Pembobolan ATM

Kehidupan masyarakat Indonesia yang sedang terlanda kegaduhan, tampaknya semakin tidak tenang. Berbagai persoalan mengusik dan mengimpit kehidupan mereka. Belum lagi terselesaikan persoalan naiknya beberapa kebutuhan pokok sehari-hari, kini masyarakat dikhawatirkan dengan dibobolnya ATM (anjungan tunai mandiri) milik enam bank besar.
Kasus pembobolan uang nasabah bank melalui ATM memang bukan hal baru. Kasus itu telah sering terjadi di berbagai tempat. Tapi kali ini, pembobol ATM itu dicurigai sebagai sindikat internasional yang biasanya menggunakan teknologi tinggi. Ini yang membuat masyarakat tidak tenang.
Kenapa masyarakat tidak tenang? Sejak diperkenalkannya ATM di Indonesia, masyarakat yang menyimpan uangnya di bank merasa memperoleh kemudahan dengan adanya ATM. Setiap saat masyarakat bisa menarik uangnya atau melakukan suatu transaksi, asal tidak melebihi saldonya.
Uang yang ditabung masyarakat tersebut tentu sebagian besar bukan hasil dari harta warisan atau memperoleh rejeki mendadak, tapi uang hasil jerih payah yang dikupulkan sedikit demi sedikit. Dengan menabung, diharapkan kehidupan masyarakat lebih teratur, bisa berhemat, dan mempunyai uang cadangan jika sewaktu-waktu diperlukan mendadak. Fasilitas ATM merupakan satu jawaban, jika kebutuhan mendadak itu tiba-tiba saja muncul.
Kini, tersiar kabar bahwa banyak ATM bank terkemuka yang dibobol oleh suatu sindikat internasional yang nilai kerugiannya mencapai ratusan juta rupiah. Kasus ini tentu sangat meresahkan masyarakat. Masyarakat yang selama ini merasa sedikit tenang dengan memiliki uang tabungan di bank, menjadi khawatir bahwa uang tabungannya bisa saja ludes digasak oleh sindikat pembobol ATM. Meski pihak Bank Indonesia meminta masyarakat tidak panik, tapi keresahan itu pasti ada.
Jika kasus pembobolan ATM itu kian meraja-lela, tentu yang dirugikan adalah masyarakat. Sementara masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa. Belum tentu pihak bank dengan mudah memberikan ganti rugi, jika masyarakat melakukan komplain ke bank yang bersangkutan karena uang simpanannya tiba-tiba raib. Padahal masyarakat tidak pernah mengganggu-gugat uang simpanannya. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan di Indonesia.
Lantas masyarakat harus berbuat apa? Menarik uangnya dan menyimpannya di rumah atau di tempat kerja? Ini pun tidak menjadi jaminan keamanan. Akhirnya masyarakat hanya bisa resah. Hal itu mirip dengan kasus peredaran uang palsu yang bisa menyentuh seluruh kehidupan masyarakat. Beredarnya uang palsu juga bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat.
Karena itu kami berharap aparat yang berwajib segera melakukan penyelidikan atas kasus dibobolnya ATM-ATM tersebut dan meringkus para pelakunya. Selain berlatar belakang kriminal, apakah tidak mungkin kasus pembobolan ATM dan pencetakan serta pengedaran uang palsu di Indonesia bermotif tertentu?
Pihak perbankan juga diharapkan bisa memberikan keamanan dan jaminan kepada masyarakat yang menjadi nasabahnya, sehingga kasus pembobolan uang melalui ATM tidak lagi terjadi. Hanya pihak bank yang bersangkutanlah yang mengetahui secara persis mengenai pengamanan mesin atau di sekitar ATM-nya.
Mudah-mudahan pula pihak bank bisa menyelesaikan dengan sebaik-baiknya terhadap nasabah yang menjadi korban pembobolan ATM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar