Kehidupan masyarakat Indonesia yang sedang terlanda kegaduhan, tampaknya
semakin tidak tenang. Berbagai persoalan mengusik dan mengimpit
kehidupan mereka. Belum lagi terselesaikan persoalan naiknya beberapa
kebutuhan pokok sehari-hari, kini masyarakat dikhawatirkan dengan
dibobolnya ATM (anjungan tunai mandiri) milik enam bank besar.
Kasus pembobolan uang nasabah bank melalui ATM memang bukan hal baru.
Kasus itu telah sering terjadi di berbagai tempat. Tapi kali ini,
pembobol ATM itu dicurigai sebagai sindikat internasional yang biasanya
menggunakan teknologi tinggi. Ini yang membuat masyarakat tidak tenang.
Kenapa masyarakat tidak tenang? Sejak diperkenalkannya ATM di Indonesia,
masyarakat yang menyimpan uangnya di bank merasa memperoleh kemudahan
dengan adanya ATM. Setiap saat masyarakat bisa menarik uangnya atau
melakukan suatu transaksi, asal tidak melebihi saldonya.
Uang yang ditabung masyarakat tersebut tentu sebagian besar bukan hasil
dari harta warisan atau memperoleh rejeki mendadak, tapi uang hasil
jerih payah yang dikupulkan sedikit demi sedikit. Dengan menabung,
diharapkan kehidupan masyarakat lebih teratur, bisa berhemat, dan
mempunyai uang cadangan jika sewaktu-waktu diperlukan mendadak.
Fasilitas ATM merupakan satu jawaban, jika kebutuhan mendadak itu
tiba-tiba saja muncul.
Kini, tersiar kabar bahwa banyak ATM bank terkemuka yang dibobol oleh
suatu sindikat internasional yang nilai kerugiannya mencapai ratusan
juta rupiah. Kasus ini tentu sangat meresahkan masyarakat. Masyarakat
yang selama ini merasa sedikit tenang dengan memiliki uang tabungan di
bank, menjadi khawatir bahwa uang tabungannya bisa saja ludes digasak
oleh sindikat pembobol ATM. Meski pihak Bank Indonesia meminta
masyarakat tidak panik, tapi keresahan itu pasti ada.
Jika kasus pembobolan ATM itu kian meraja-lela, tentu yang dirugikan
adalah masyarakat. Sementara masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa.
Belum tentu pihak bank dengan mudah memberikan ganti rugi, jika
masyarakat melakukan komplain ke bank yang bersangkutan karena uang
simpanannya tiba-tiba raib. Padahal masyarakat tidak pernah
mengganggu-gugat uang simpanannya. Yang lebih mengkhawatirkan lagi
adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan di Indonesia.
Lantas masyarakat harus berbuat apa? Menarik uangnya dan menyimpannya di
rumah atau di tempat kerja? Ini pun tidak menjadi jaminan keamanan.
Akhirnya masyarakat hanya bisa resah. Hal itu mirip dengan kasus
peredaran uang palsu yang bisa menyentuh seluruh kehidupan masyarakat.
Beredarnya uang palsu juga bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat.
Karena itu kami berharap aparat yang berwajib segera melakukan
penyelidikan atas kasus dibobolnya ATM-ATM tersebut dan meringkus para
pelakunya. Selain berlatar belakang kriminal, apakah tidak mungkin kasus
pembobolan ATM dan pencetakan serta pengedaran uang palsu di Indonesia
bermotif tertentu?
Pihak perbankan juga diharapkan bisa memberikan keamanan dan jaminan
kepada masyarakat yang menjadi nasabahnya, sehingga kasus pembobolan
uang melalui ATM tidak lagi terjadi. Hanya pihak bank yang
bersangkutanlah yang mengetahui secara persis mengenai pengamanan mesin
atau di sekitar ATM-nya.
Mudah-mudahan pula pihak bank bisa menyelesaikan dengan sebaik-baiknya terhadap nasabah yang menjadi korban pembobolan ATM.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar